Sejarah Badan Penjaminan Mutu Universitas Ubudiyah Indoensia

| 26-11-2014   15:58:04 WIB

Dalam mewujudkan pemenuhan akan standar mutu sebagaimana dimanahkan Pasal 91 PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan (SNP) yang menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan pada jalur formal dan non-formal wajib melakukan penjaminan mutu pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi atau malampaui Standar Nasional Pendidikan maka pada tahun 2014 UUI telah membentuk Direktorat khusus yang diberi nama Badan Jaminan Mutu (BJM). Badan ini yang bertanggungjawab dalam membangun dan memantau pelaksanaan sistem mutu internal, termasuk melaksanakan monitoring dan evaluasi (audit) kegiatan pembelajaran dilingkungan Universitas Ubudiyah Indonesia.

Dengan demikian BJM UUI memiliki peran yang strategis dalam mengembangkan sIstem penjamin mutu dan mengevaluasi pelaksanaan sistem mutu tersebut dilingkungan Universitas Ubudiyah Indoensia. Untuk itu diharapkan masyarakat akan mendapat jaminan penyelenggaraan akademik yang bermutu bagi Mahasiswa baru dan lulusan dari UUI sesuai tuntutan masyarakat dan dunia kerja saat ini.

Dalam perspektif manajemen mutu UUI perlu mengendalikan mutu kegiatan yang diselenggarakan pada setiap tahapan dalam proses manajemennya mencakup input, proses, output dan kepuasan stakeholders.

Seiring dengan perkembangan UUI dan tuntutan masyarakat, maka dilakukan pengembangan terhadap Badan Penjaminan Mutu. Untuk mendukung keberhasilan ini, UUI harus melakukan konsep manajemen mutu sebagai berikut:

  1. Fokus dalam melakukan pelayanan (Service Excelent)
  2. Berkomitmen untuk melakukan perbaikan berkelanjutan
  3. Fokus pada proses kerja dalam hal ini pembelajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat
  4. Perbaikan mutu segala sesuatu di dalam akademik, dalam hal ini bagaimana cara akademik menangani penyerahan (delivery), seberapa cepat akademik menanggapi keluhan.
  5. Melakukan pengukuran yang tepat, dalam hal ini manajamen mutu menggunakan teknik-teknik statistic untuk mengukur setiap variable penting penentu keberhasilan operasional akademik. Pengukuran itu diperbandingkan dengan standar atau tolak ukur (brenchmark) guna mengidentifikasi masalah, melacak masalah sampai ke akar-akarnya, dan menghilangkan penyebabnya.
  6. Melakukan pemberdayaan para karyawan, dalam hal ini manajemen mutu melibatkan orang yang bertugas untuk digunakansecara luas dalam program-program manajemen mutu sebagai wahana pemberdayaan untuk menemukan dan menyelesaikan masalah