Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

| 04-01-2015   23:24:14 WIB | dilihat 404 kali

Sejarah peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada awal mulanya berasal dari penetapan 6 perayaan hari lahir tokoh islam  oleh salah seorang Sultan yang berasal dari Dinasti Fathimiyyun pada tahun 362 H dengan raja pertamanya sultan Al Muiz Lidinillah. Peringatan tersebut pernah pudar pada tahun 487 H yaitu pada masa pemerintahan Afdhal. Namun pada masa pemerintahan raja yang bergelar Al Amir Liahkamillah pada tahun 515 H prringatan hari lahir Nabi kembali dihidupkan, sampai seterusnya.

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa peringatan maulid nabi pertama kali diusulkan oleh Sultan Salahuddin Al Aiyyubi dari Dinasti Bani Aiyyub. Namun, di Indonesia Peringatan mulai dilakukan pada masa walisongo. Khusus di Aceh, peringatan Maulid Nabi sudah menjadi tradisi semenjak pemerintahan Iskandar Muda sampai sekarang. Beragam pendapat pun bermunculan tentang hukum memperingati maulid nabi. Dari sekian banyak pendapst, maka orang awwam mengenal dua pandangan yang paling terkrnal, yaitu: 

Pendapat pertama, yang menentang, mengatakan bahwa maulid Nabi merupakan bidah mazmumah, menyesatkan. Pendapat pertama membangun argumentasinya melalui pendekatan normatif tekstual. Perayaan maulid Nabi SAW itu tidak ditemukan baik secara tersurat maupun secara tersirat dalam Al-Quran dan juga Al-Hadis. Syekh Tajudiin Al-Iskandari, ulama besar berhaluan  Malikiyah yang mewakili pendapat pertama, menyatakan maulid Nabi adalah bidah mazmumah, menyesatkan. Penolakan ini ditulisnya dalam kitab Al-Murid Al Kalam Ala amal Al Maulid

Pendapat kedua, yang telah menerima dan mendukung tersebut, beralasan bahwa maulid Nabi adalah bidah mahmudah, inovasi yang baik, dan tidak bertentangan dengan syariat. Pendapat kedua diwakili oleh Imam Ibnu Hajar Asqalani dan Imam As Suyuthi. Keduanya mengatakan bahwa status hukum maulid Nabi adalah bidah mahmudah. Yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, tetapi keberadaannya tidak bertentang dengan ajaran Islam. Bagi As-Suyuti, keabsahan maulid Nabi Muhammad SAW bisa dianalogikan dengan diamnya Rasulullah ketika mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas keselamatan Nabi Musa dari kejaran Firaun. maulid Nabi, menurut As Suyuti, adalah ungkapan syukur atas diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi. Penuturan ini dapat dilihat dalam kitab Al Nimah Al Kubra Ala Al-Alam fi Maulid Sayyid Wuld Adam.

Selain itu, dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi bersabda: 

Barang siapa dari ummatku yang menghormati hari lahirku, maka dia akan mendapat syafaat di hari kiamat.

Umar bin Khattab berkata: 

Barangsiapa menghormti hari lahir Rasulullah, maka sungguh ia telah menegakkan agama islam.

 

Created by. Mutiawati

Facebook Twitter Google Digg Reddit LinkedIn Pinterest StumbleUpon Email

Hadis-hadis pilihan
" Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: "Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat." (HR. Bukhari dan Muslim) "